Asal mula adanya Desa Gandu adalah pada zaman dahulu ada seorang priyayi agung yang berasal dari Kota Jepara, Jawa-Tengah yang bernama Pandu Pragula Pati yang sedang melakukan perjalan menuju Desa Parang Banyakan, Kediri, Jawa-Timur. Dia menempuh perjalanannya menuju ke Desa Parang Banyakan, Kediri, Jawa-Timur dengan menunggangi seekor kuda.
Sangat lama dia melakukan perjalanannya yang hanya di temani seekor kuda. Beberapa puluh jam dia menempuh perjalanannya, tiba-tiba di tengah perjalanannya ia mengalami kecelakaan yang membuat ia jatuh dari kudanya sehingga mengalami cedera di bagian lutut atau yang biasa disebut orang zaman dahulu dengan nama GANDU.
Dia jatuh mengalami kecelakaan di sebuah tempat yang masih banyak ditumbuhi pepohonan yang besar dan lebat daunnya. Di tempat itu belum banyak dibangun gubuk atau rumah untuk tempat tinggal manusia.
Alhamdulillah, selang beberapa menit ada tiga orang yang lewat dan melihat ia jatuh menahan sakit. Kemudian orang itu membantunya berdiri dan mengobatinya dengan bahan-bahan yang ada di sekitarnya dan memberinya minum. Banyak orang yang mendengar peristiwa itu dan si Pandu Pragula Pati menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
Ketiga orang yang menolong Pandu Pragula Pati itu adalah :
1. Raden Rachmad
2. Sapurah
3. Abdul Syukur
Setelah mendapatkan pertolongan dari ketiga orang tersebut dan Pandu Pragula Pati itu sembuh seperti dahulu kala atau seperti semula, ia mengucapkan banyak terima kasih kepada ketiga orang yang telah menolongnya itu dan ia berjanji tidak akan melupakan jasa ketiga orang yang telah menolongnya itu.
Kemudian ia pamit dan langsung meneruskan perjalannya itu ke tempat yang ia tuju yaitu, Desa Parang Banyakan, Kediri, Jawa-Timur. Lalu tempat di mana ia jatuh tadi di namakan dengan DESA GANDU.
Beberapa hari kemudian ketiga orang yang telah menolong Pandu Pragula Pati itu meninggal dunia dan mereka di makamkan di Desa Gandu dan sampai sekarang makam itu di jadikan dan di beri nama PUNDEN DESA GANDU dengan sebutan lain MBAH IPRIK.
Sumber: (Kemis Hariono; Partono, wawancara, 2012)